Untukmu yang Mendua di Sana, Pahamilah Bahwa Aku Tahu Semuanya

1129 views

Menemukan pesan hangat dari dia yang kau bilang hanya seorang teman sudah biasa kurasakan. Dengan banyak alasan, mulai dari urusan pekerjaan hingga kenalan teman, kau berkali berdusta menoreh kebohongan dalam hubungan kita.

Ketika pertengkaran pecah, kamu pun berkali-kali berjanji tidak akan mengulangi lagi. Tapi kali ini, walau sudah mencium gelagat kau melakukan hal yang sama, aku akan mencoba diam melihat kemampuanmu merangkai dusta.

Bertemu denganmu pernah ku amini sebagai sebuah keberuntungan. Tapi pada akhirnya, keyakinan itu harus ku anulir sebagai sebuah kesalahan perasaan.

 

Sebelum akhirnya dipertemukan dengan dia yang tepat, aku percaya bahwa Tuhan akan memberikan kita kesempatan untuk banyak belajar. Mungkin salah satu pelajaran tersebut adalah pertemuan kita. Walau sebelumnya pernah meyakinimu sebagai pasangan jiwa, tapi lewat semua rasa sakit yang kau tancapkan, aku jadi tahu bahwa kamu bukanlah orangnya.

Kesepakatan kita untuk menjalani hubungan tanpa pengkhiantan jelas-jelas termentahkan oleh semua permainanmu di belakang. Entah ada berapa kekasih bayangan yang kau miliki selama kita berhubungan. Aku yang pernah begitu percaya harus mendapati kenyataan bahwa kekasihku tak sebegitu setianya.

Pertengkaran rasanya sudah menjadi akrab kita temui saat aku mendapatimu bermain hati. Namun kamu selalu berhasil membuatku memberi maaf.

Aku jelas bukan perempuan berhati baja yang kebal terhadap rasa sakit hati. Sebagai manusia biasa, seringkali emosiku tersulut saat menemukanmu sedang berbagi kasih dengan yang lainnya. Berkali-kali kita terjebak dalam pertengkaran hebat. Sering pula juga kata putus terlontar, tapi yang akhirnya terjadi aku selalu setia memberi maaf.

Kamu dengan segala perkataan manis selalu berhasil membuatku mengampuni segala kesalahan. Katamu setiap orang berhak diberi kesempatan kedua. Aku yang waktu itu selalu mempercayai ucapanmu, kembali memberi kesempatan. Selain karena ucapan, harapan yang besar untuk mempertahankan hubungan juga menjadi alasan mengapa aku selalu memberi maaf.

Kini saat kau kembali bermain hati, kuputuskan untuk berhenti  berusaha. Meski tidak mengatakannya, aku tahu di sana kau sedang mendua.

Kemarin aku kembali harus mendengar kenyataan bahwa kamu kembali menduakan perasaan. Dari seorang teman, aku tahu bahwa dirimu sedang mencurangi hubungan kita. Entah sudah kali berapa hal ini terjadi. Tapi yang jujur aku sudah tidak perduli. Silahkan bersenang-senang dalam kebohongan.

Sekarang, di tempat ini aku sudah siap menata hati. Aku tidak ingin lagi marah dan memarahimu seperti biasa. Meski tidak mengatakannya, ketahuilah bahwa aku tahu persis kau sedang mendua. Sekali lagi kukatakan, kamu bebas melakukannya. Apapun yang kau lakukan di sana, aku sudah tidak perduli.

Karena ketika datang lagi, kau hanya akan menyadari bahwa perempuanmu sudah pergi dan tak sudi kembali.

Untuk semua yang telah terjadi izinkanlah ku berpamit diri. Ya, aku yang dulu rela berjuang kini sudah patah arang. Dengan pengkhianatanmu yang kesekian, ku putuskan untuk pergi. Aku tidak harus mengucapkan selamat tinggal. Tapi dengan kepergianku, semoga kamu belajar bahwa ada sabar yang berbatas.

Saat nanti kamu datang lagi, jangan terkejut jika perempuan tidak ada lagi. Ia sudah pergi mencari cinta yang lebih sejati. Kamu hanya akan mendapati surat ini. Jangan terkejut dan mempertanyakan kenapa. Karena selama pengkhianatanmu di sana, kucoba untuk  berhenti bicara.