Uniknya Pernikahan Adat Betawi

15813 views

Uniknya Pernikahan Adat BetawiPernikahan adat betawi sering kita saksikan menghiasi film atau sinetron-sinetron yang mengambil tema-tema Betawi yang kental. Seperti di ketahui budaya Betawi sudah mempunyai histori panjang seusia dengan umur Kota Jayakarta atau Sunda Kelapa yang saat ini jadi Jakarta.

Percampuran budaya dari beragam negara yang pernah singgah ke kota Sunda Kelapa misalnya dari India, China, Arab, Eropa, Melayu jadi tidak terelakkan. Jadi jika anda perhatikan maka kebudayaan Betawi yang ada saat ini adalah campur sari dari beragam budaya yang lain, terlebih Arab. Hal ini lah yang turut  membentuk uniknya pernikahan adat Betawi.

Kebiasaan istiadat Betawi benar-benar sangat suka pada beragam kesenian, hingga tidak mengherankan bila dalam tiap-tiap pernikahan kebiasaan Betawi spirit berkeseniannya pasti sangat menguasai. Satu diantaranya contoh Tanjidor yang dibawa oleh kebudayaan bangsa Belanda, atau keroncong tugu yang disebut kesenian dari tanah Arab.

Dalam tiap-tiap pernikahan kebiasaan Betawi, seperti pernikahan dari sebuah budaya yang lain, mesti melalui sebagian prosesi yang diangap sakral serta utama. Umpamanya, dengan diawali tahapan dipertemukannya kedua keluarga mempelai dengan istilah "mak comblang"

Kemudian, bagian selanjutnya berbentuk acara meminang atau di sebut melamar sang gadis idola. Sesudah dilamar seorang wanita dipingit serta disiram. Saat sebelum malam pernikahan, diselenggarakan “malam pacar” yang mengharuskan seorang calon mempelai wanita memakai pacar untuk memerahkan jari kuku-kukunya.

Tiap-tiap acara pernikahan kebiasaan Betawi pasti senantiasa meriah. Mendekati kehadiran sang mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita senantiasa diiringi dengan bunyi meriah petasan.

Rombongan mempelai pria jalan perlahan-lahan sembari diiringi oleh sebuah ondel-ondel yang berlenggak-lenggok menghibur, bunyi tanjidor dan group marawis yang sudah disiapkan. Umumnya, keluarga mempelai pria jalan sembari membimbing kambing yang bakal diberikannya pada mempelai wanita juga sebagai salah satu bukti sebuah tanda kasihnya.

Setelah tiba di depan rumah calon mempelai wanita ada sistem yang dimaksud “buka palang pintu” lewat cara sama-sama berbalas sebuah pantun dari perwakilan keluarga pria serta wanita.

Setelah itu diselenggarakan adu silat dari pihak pengantin wanita serta pengantin lelaki juga sebagai lambang kesiapan calon suami dalam melindungi isterinya nantinya. Uniknya, senantiasa saja pemain silat dari pihak sang mempelai wanita dapat ditaklukkan oleh pesilat dari keluarga prianya. Akad Nikah

Sesudah prosesi “buka palang pintu” upacara pernikahan adat Betawi selanjutnya yang disebut inti dari suatu pernikahan itu yaitu akad nikah. Sebagian hantaran yang umumnya diberikan pengantin pria pada mempelai wanita berbentuk maket mesjid, mahar, petise, kerudung, dsb.

Acara juga berlanjut dengan menambah ke-2 mempelai ke atas delman yang ditutupi dengan sebuah kain hitam agar tidak tampak dari luar menuju sang penghulu. Walau tidak tampak dari luar, tetapi rata-rata orang tahu bahwa dalam delman itu ada mempelai yang bakal dinikahkan.

Rangkaian Upacara Pernikahan adat Betawi

Sebagaimana lazimnya pernikahan tradisional, pernikahan adat Betawi juga mengenal rangkaian kegiatan panjang yang tidak kalah serunya dengan pernikahan adat jawa, sunda serta daerah lainnya.

1. Rangkaian Upacara Ngedelengin

Dalam sebuah rangkaian pernikahan adat Betawi, sepasang muda-mudi yang punya niat untuk menuju tahap perkawinan harus mengenalkan calon pasangannya terlebih dahulu. Dalam sebuah adat Betawi, hal semacam ini di kenal dengan nama ngedelengin, yang jika diartikan secara bebas dapat berarti "melihat dengan seksama"  jika anda perhatikan penamaan itu kelihatannya hasil akulturasi pada budaya Betawi serta Jawa.

Setelah ke-2 pihak terasa pas dengan pilihan  masing-masing, prosesi setelah itu yaitu mak comblang, yang diperankan oleh pihak keluarga lelaki, terutama encang atau paman serta encing atau bibi.

Uniknya pernikahan adat Betawi mulai terlihat disini, sebagai sinyal bahwa anak gadis dirumah itu telah ada yang mengiginkan maka "mak comblang" menggantungkan ikan Bandeng halaman rumah sang gadis. Simbol ini juga sebagai sinyal bahwa anak gadis dirumah itu telah ada yang mengiginkan. Mungkin anda menganggap proses aneh bukan, namun kenyataannya proses ini  rangkaian perkawinan kebiasaan Betawi yg tidak bolah ditinggalkan. Inilah kembali yang kami pandang uniknya pernikahan adat Betawi

2. Rangkaian Upacara Ngelamar

Usai melakukan prosesi pertama dalam sebuah rangkaian pernikahan adat Betawi, yang berikutnya adalah prosesi ngelamar. Prosesi ini dikerjakan sudah pasti sesudah pihak gadis menyepakati. Pada proses nglamar pihak gadis melakukan “negosiasi” tentang apa sajakah yang perlu dibawa waktu lamaran.

Hal-hal yang perlu disediakan pihak lelaki waktu prosesi lamaran ini adalah sirih lamaran, pisang raja, roti tawar, serta bermacam hadiah yang di idamkan calon mempelai wanita dan pihak keluarga. Satu minggu sesudah acara lamaran, pihak lelaki mendatangi rumah sang calon mempelai wanita, dengan membawa tande putus, sejenis pengikat jalinan pada ke-2 pihak, umumnya berupa cincin. Disaat inilah dibicarakan lebih lanjut hingga kepada tanggal pernikahan.

Di tiitk inilah pertanda bahwa ke-2 pasangan Betawi tersebut sudah bulat pilihannya. Selanjutnya persiapan mendalam, merepotkan dan melelahkan sudah terbentang di depan mata.

3. Bawa Tande Putus

Acara ini nyaris serupa dengan sebuah acara pertunangan. Sebagai simbol Tande putus orang Betawi umumnya memberi tande putus berbentuk cincin iris rotan, duit pesalin sekadarnya, dan bermacam rupa kue.

Tande putus ini sendiri berarti si gadis atau calon none mantu sudah terikat serta tidak bisa lagi diganggu oleh pihak-pihak lain. Begitupun dengan calon tuan mantu atau si pemuda. Sesudah tande putus diserahkan, jadi berlanjut dengan memastikan tanggal serta hari pernikahan.

4. Rangkaian Akad Nikah

Untuk sang calon pengantin wanita, hal yang perlu dikerjakan saat sebelum upacara akad nikah ternyata lebih merepotkan. Dalam pernikahan adat Betawi, anak gadis mesti menjalani upacara dipiare, acara mandiin, acara tangkas atau acara kum yang bermanfaat untuk bersihkan badan dan terakhir acara ngerik atau malam pacar. Di dalam acara ini, calon pengantin wanita bakal hiasi kuku kaki serta tangan dengan pacar.

Ritual-ritual itu dikerjakan supaya tampilan mempelai wanita saat pernikahan di gelar betul-betul cantik. Ada yang mempercayai, bahwa ritual itu bakal bikin aura pengantin wanita nya lebih terpancar. Pengantin wanita bakal tampak bercahaya di hari pernikahannya nanti.

Sesudah bermacam prosesi dikerjakan oleh calon mempelai wanita, barulah akad nikah dapat dikerjakan. Dalam pernikahan ala Betawi, sang mempelai pria mesti membawa seserahan berbentuk beberapa barang berikut:

Sirih serta beragam perlengkapan menyirih, sebagai perlambang bahwa seluruhnya kegetiran dalam kehidupan berumah tangga bakal ditempuh berbarengan.

Maket mesjid, memberikan lambang bahwa sang suami bakal jadi imam yang baik dalam keluarga. Ia bakal senantiasa mendekatkan keluarganya pada Allah. Maket mesjid umumnya di buat dari duit seserahan.

Kekudang Seserahan ini diisi beberapa barang yang disebut kesukaan mempelai wanita dari kecil sampai dewasa. Walau berkesan lucu serta tak sakral, barang kekudang seserahan bisa dibilang sebagai barang seserahan  lumayan penting dalam prosesi acara perkawinan kebiasaan Betawi.

Pesalinan Berbentuk baju juga sebagai perlambang pemenuhan keharusan suami pada beberapa barang keperluan sang istri.

Petise. Berbentuk sayur serta buah-buahan.

Sepasang roti buaya. Roti ini memberikan lambang kesetiaan pada ke-2 mempelai. Seserahan yang satu ini jadi salah satu barang yang cukup utama dalam sebuah prosesi perkawinan kebiasaan Betawi. Roti Buaya juga salah satu uniknya pernikahan adat Betawi.

5. Buka Palang Pintu

Sesampainya di depan rumah sang calon mempelai wanita lebih dahulu diselenggarakan prosesi buka palang pintu, berbentuk berbalas pantun serta adu silat pada wakil dari keluarga pria serta wakil dari keluarga wanita.

Prosesi itu ditujukan juga sebagai ujian untuk mempelai pria saat sebelum di terima juga sebagai calon suami yang bakal jadi pelindung untuk mempelai wanita sang idola hati. Uniknya, dalam tiap-tiap petarungan silat, jagoan dari pihak sang mempelai wanita pasti ditaklukkan oleh jagoan mempelai pria.

Kebiasaan Palang Pintu ini adalah pelengkap waktu pengantin pria yang dimaksud " tuan raja mude " akan masuk rumah pengantin wanita atau " tuan putri ". Nah, waktu akan masuk tempat tinggal pengantin putri tersebut, pihak pengantin wanita bakal menghadang.

Awalannya, berlangsung dialog yang sopan. Semasing sama-sama bertukar salam, semasing sama-sama mendoakan. Hingga pada akhirnya pelan-pelan kondisi memanas karena pihak pengantin perempun mau menguji kesaktian serta kepandaian dari pihak pengantin lelaki dalam berilmu silat serta mengaji.

6. Di Puade

Diluar itu ada juga prosesi di puade. Sesudah ke-2 mempelai duduk di puade atau pelaminan, tukang rias membuka roban  tebal yang menutupi kepala mempelai wanita.

Setelah itu upacara pernikahan kebiasaan Betawi ini, mempelai pria memberi sirih dare pada mempelai wanita juga sebagai simbol cinta kasih. Umumnya didalam sirih diselipkan duit juga sebagai duit sembe atau seserahan.

Semoga artikel kami tentang Uniknya Pernikahan Adat Betawi dapat bermanfaat untuk anda 🙂

By: Uniknya Pernikahan Adat Betawi

Topik pilihan pembaca:

  • pernikahan adat betawi
  • seserahan adat betawi
  • hantaran lamaran adat betawi
  • bawaan lamaran adat betawi
  • isi seserahan adat betawi
  • lamaran adat betawi
  • nikah adat betawi
  • adat pernikahan betawi
  • daftar seserahan pernikahan adat betawi
  • seserahan pernikahan betawi