Prosesi Pernikahan Adat Batak

4969 views

Prosesi Pernikahan Adat Batak

Prosesi Pernikahan Adat Batak

Prosesi Pernikahan Adat Batak - Rumahnikah.com

Prosesi Pernikahan Adat Batak - Untuk Suku Batak Toba, prosesi tradisi pernikahan Batak yaitu moment besar serta sangatlah utama. Didalam kebiasaan pernikahan Batak banyak pihak ikut serta serta melakukan tindakan juga sebagai saksi proses kebiasaan yang berlaku dan turut bertanggungjawab di dalamnya, salah satunya dongan sahuta, boru, serta hulahula.

Lantaran banyak pihak yang ikut serta, jadi pernikahan pada warga Batak ikatannya sangatlah kuat hingga sedikit susah untuk bercerai. Pernikahan pada kebiasaan Batak baru disebutkan resmi, bila dikerjakan berdasar pada kebiasaan Dalihan Na Tolu, yakni elek marboru, manat mardongan tubu, serta somba marhula-hula.

Orang-orang Batak walau mereka merantau serta tinggal jauh dari tanah kelahirannya, tetapi beberapa besar dari mereka masih tetap memegang teguh sebuah nilai-nilai budaya. Dari mulai system kekerabatan, sampai kebiasaan istiadat dari mulai bayi, anak, remaja, perkawinan serta kematian. terus terpelihara dalam kehidupan keseharian.
Di bawah ini prosesi kebiasaan pernikahan Batak yang terdiri atas sembilan bagian dalam Prosesi Pernikahan Adat Batak :

1. Mangaririt

Bagian pertama dalam kebiasaan pernikahan Batak ini adalah sistem perjumpaan atau pendekatan antarcalon pengantin saat sebelum menuju bagian setelah itu. Mangaririt atau ajuk-mengajuk hati dikerjakan apabila sang calon pengantin lelaki tak pernah mencari pasangan calon pengantinnya sendiri lantaran tengah pergi merantau untuk bekerja diluar daerah.
Dalam mencari, calon pengantin lelaki dapat sendiri pilih gadis yang bakal jadikan juga sebagai calon istrinya atau dapat diwakilkan oleh orang-tua serta serta pihak keluarga besar untuk memilihnya. Tetapi, mesti sesuai sama persyaratan keluarga maupun kriterianya sendiri.

Mangaririt umumnya dikerjakan saat calon pengantin lelaki itu pulang kampung. Saat tersebut ia dipertemukan dengan si gadis yang bakal dinikahkan dengan dirinya. Kunjungan ini berbentuk tak resmi serta dikerjakan dalam rencana penjajakan.

2. Mangalehon Tanda

Sistem ini persis dikerjakan sesudah mangaririt. Saat calon pengantin lelaki telah temukan calon pengantin perempuannya serta terasa pas, jadi lalu baik pihak lelaki ataupun pihak wanita bakal sama-sama memberi sinyal. Oleh karenanya, bagian ini dimaksud mangalehon sinyal.

Adapun tanda itu berbentuk beberapa uang yang didapatkan dari pihak lelaki pada pihak wanita, lalu dibalas pihak wanita dengan memberi kain sarung pada pihak lelaki.

Sesudah manglehon sinyal dikerjakan, jadi calon pengantin lelaki memberitahukan tentang itu pada orangtuanya. Lalu orang-tua pihak lelaki, bakal menyuruh pihak domu-domu atau penghubung untuk meyakinkan pada orang-tua pihak wanita. Sesudah sama-sama memberi sinyal, jadi mereka dinyatakan telah sama-sama terikat keduanya.

3. Marhusip

Marhusip dalam bhs Batak Toba dengan cara harfiah bermakna ‘berbisik’. Tetapi, konotasi arti marhusip lebih mengacu pada perundingan atau perbincangan yang berbentuk tertutup yang dikerjakan pada wakil pihak orang-tua calon pengantin wanita dengan utusan dari pihak keluarga calon pengantin lelaki.

Marhusip umumnya dikerjakan dirumah pihak wanita, dimana domu-domu dari calon pengantin lelaki bakal menuturkan pada kerabat atau dari pihak keluarga besar calon pengantin wanita tentang maksud kehadiran mereka.
Perbincangan itu biasanya mengulas perihal jumlah mas kawin yang perlu disediakan oleh pihak lelaki yang bakal diserahkan pada pihak wanita.

Tetapi, beragam hal yang dibicarakan dalam sebuah marhusip masih tetap adalah rahasia diantara ke-2 pihak keluarga serta belum dapat jadi mengkonsumsi umum lantaran mungkin berlangsung kegagalan dalam meraih kata setuju. Dalam marhusip juga tentu dibicarakan gagasan untuk mengadakan martumpol.

4. Martumpol

Dalam orang-orang Batak Toba yang beragama Kristen khususnya, acara ini harus diadakan. Martumpol adalah acara dimana ke-2 pengantin akan diikat janji untuk menyelenggarakan perkawinan dihadapan para pengurus jemaat gereja.

Martumpol dalam sebuah pemaknaannya sama dengan acara pertunangan. Martumpol biasanya dikerjakan didalam gereja dengan di hadiri oleh orang-tua ke-2 calon pengantin dan juga keluarga besar, dan undangan-undangan yang masih tetap adalah kerabat paling dekat mereka.

Tata langkah partumpolan dikerjakan sesuai sama ketetapan yang berlaku oleh petinggi gereja. Dalam martumpol berlangsung penandatanganan kesepakatan pernikahan di hadapan petinggi gereja tentang gagasan pernikahan ke-2 calon mempelai oleh perwakilan dari pihak keluarganya semasing, yakni orang-tua.

Kemudian dikerjakan, tingting sepanjang 2 x hari minggu berturut-turut dimana warta jemaat HKBP dipakai untuk mewartakan gagasan perkawinan dari ke-2 iris pihak. Pemberkatan nikah atau yang di sebut pamasu-masuon bisa dikerjakan apabila telah 2 x terdengarsura tingting bahwa tak ada yang keberatan.

5. Marhata Sinamot

Acara marhata sinamot adalah acara antarbesan, dimana berlangsung perjumpaan resmi serta bersilahturahmi pada orang-tua calon pengantin lelaki serta orang-tua calon pengantin wanita. Dalam sebuah acara marhata sinamot dibicarakan banyak hal salah satunya jumlah mas kawin yang didapatkan pihak lelaki yang biasanya ditetapkan melalui sistem tawar-menawar.

Lalu dibicarakan juga berapakah banyak undangan yang bakal disebar, dimana upacara pernikahan bakal dikerjakan, berapakah banyak ulos yang diperlukan, hewan apa yang bakal disembelih, dsb.

6. Martonggo Raja

Martonggo raja yaitu suatu acara berkumpulnya wanita seluruhnya keluarga besar mendekati acara pernikahan. Hal semacam ini diadakan lantaran pernikahan pada orang-orang Batak Toba adalah masalah semua keluarga bukan sekedar jadi masalah pengantin atau orang-tua ke-2 calon pengantin itu.

Oleh karena itu, ke-2 orang-tua calon pengantin bakal mengundang seluruhnya ke anggota keluarga besar serta kerabat mereka dirumah semasing untuk menghadiri suatu upacara martonggo raja, terutama yang berkenaan dengan Dalihan Na Tolu, yakni boru atau anggota marga menantu, (kerabat marga ibu) hula-hula, dongan tubu (kerabat marga bapak),  pariban (beberapa orang tua), dongan sabutuha, serta dongan sahuta (rekan sekampung).

Aktivitas ini adalah aktivitas pra pernikahan kebiasaan yang berbentuk ceremonial yang mutlak diadakan oleh pihak penyelenggara pernikahan kebiasaan dengan maksud seperti berikut :

a. Meminta izin pada orang-orang seputar, terutama dongan sahuta, berkenaan dengan gagasan memakai sarana umum saat pesta.
b. Menginformasikan pada orang-orang tentang saat pernikahan kebiasaan, serta berkenaan dengan hal semacam itu dimohon supaya pihak lain tak mengadakan acara yang sama kurun waktu yang sama.
c. Mempersiapkan kepentingan pernikahan kebiasaan yang berbentuk tehnis ataupun non tehnis.

7. Marunjuk

Ini yaitu acara puncak, yakni saat berlangsungnya sebuah upacara pernikahan dari mulai makan sibuhai-buhai, pembagian, serta mangulosi. Dalam marunjuk dikerjakan pemberkatan suatu pernikahan oleh petinggi gereja atau dikerjakan pengesahan pernikahan kebiasaan ke-2 mempelai menurut tata langkah gereja.

Ke-2 mempelai yang telah lewat pemberkatan pernikahan, jadi telah sah juga sebagai suami-istri menurut gereja. Marunjuk dilanjutkan dengan sebuah pesta yang di dalamnya ada pembagian jambar (daging). Marunjuk kepada orang dari Batak Toba terdiri atas dua jenis, yaitu Taruhon Jual serta Alap Jual.

Taruhon jual yaitu saat upacara pernikahan dikerjakan ditempat lelaki, jadi dari mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk lalu diantar lagi oleh beberapa namborunya ke tempat namborunya.

Prosesi alap jual yaitu saat pernikahan dikerjakan ditempat wanita, kebiasaan ini dapat umum dimaksud mangalap boru atau menjemput pengantin wanita. Dimana pengantin lelaki berbarengan orang-tua, golongan kerabat, beserta beberapa undangan menjemput mempelai pengantin wanita dirumah orangtuanya.

Penjemputan ini umumnya diiringi dengan hidangan makanan yang ditutupi ulos yang disiapkan oleh keluarga pria.

8. Paulak Une

Paulak Une adalah sebuah acara sesudah pernikahan, dimana ke-2 pengantin dapat sama-sama berkunjung ke sesudah satu minggu berselang dari proses upacara pernikahan.

Pengantin lelaki dapat tinggal dirumah orang-tua pengantin wanita demikian juga demikian sebaliknya pengantin perempuan juga bisa tinggal dirumah orang-tua pengantin lelaki. Hal semacam ini utama ditempuh untuk tahu kecocokan serta keselarasan pada mertua serta menantu.

9. Maningkir Tangga

Upacara ini dikerjakan dengan maksud supaya pihak keluarga wanita bisa lihat segera situasi putri mereka serta suaminya dirumah mertuanya atau dirumah mereka sendiri yang terpisah dari rumah orang-tua pengantin lelaki. Maningkir tangga juga dibarengi dengan pembagian sebuah jambar.

Kunjungan ini dapat dikerjakan untuk memberi tuntunan serta nasehat dalam membina rumah tangga pada pengantin. Hal semacam ini harus dikerjakan lantaran ke-2 keluarga besar sudah terikat jalinan kekeluargaan.

Di dalam kunjungan ini parboru membawa hidangan makanan, seperti nasi serta lauk pauk, dengke sitio tio serta dengke simundur-mundur. Dengan selesainya acara kunjungan maningkir tangga ini jadi penutup rangkaian pernikahan kebiasaan Batak.
Semoga info dalam artikel tentang Prosesi Pernikahan Adat Batak dapat bermanfaat 🙂 .