Pernikahan Adat Jawa

6120 views

Pernikahan Adat Jawa

Pernikahan Adat Jawa

Di Indonesia yang kaya akan macam budaya, kebiasaan istiadat yang dipunyai bermacam juga. Termasuk juga di dalamnya sebuah prosesi pernikahan. Dalam pernikahan adat jawa sebetulnya banyak sekali prosesinya namun umumnya siraman serta midodareni yang banyak dikenal oleh masyarakat.Walaupun berkesan njelimet, tidak ada kelirunya kan bila Anda mengetahui lebih jauh prosesi pernikahan Tradisi Jawa.

Rangkaian acara pernikahan adat Jawa diawali dengan Siraman merupakan simbolisasi dari langkah pembersihan jiwa serta raga. Acara Siraman ini dilakukan satu hari menjelang dilaksanakannya ijab kabul.

Upacara Pernikahan Adat Jawa apabila dipandang sepintas nyaris serupa dengan kebiasaan Keraton. Memanglah benar, tradisi pernikahan adat Jawa bersumber dari tradisi keraton. Wajar jika terlihat begitu banyak proses yang harus dilalui dan yang juga terkesan ekslusif adalah biaya yang harus dikeluarkan jika seseorang hendak melaksanakan pernikahan dengan cara seperti yang dilakukan kalangan kerabat keraton.

Bersamaan dengan perubahan zaman, kebiasaan istiadat pernikahan makin lama keluar dari kebiasaan Keraton. Hal semacam ini tampak dari sisi tata rias yang dipakai dalam pernikahan adat jawa. Umpamanya dalam kebiasaan Keraton memakai baju dengan bahu terbuka, untuk kalangan masyarakat Jawa secara luas tentunya hal ini risih jika dilakukan. Jika dilakukan dalam keraton tentu saja akan berbeda karena kegiatan dalam keraton sangat ekslusif tidak terekspos luas di masyarakat yang memiliki ragam pandang yang berbeda.

Pada intinya, banyak persamaan yang terkait dalam upacara pernikahan ataupun tata rias diantara kebiasaan Jawa serta Keraton. Tak dapat disangkal juga ada ketidaksamaan diantara keduanya. Meskipun tetap ada perbedaan terutama didasarkan kepada kepraktisan pernikahan adat jawa di masyarakat umum  dibanding di kalangan keraton yang jauh lebih rumit.

Berikut ini adalah beberapa kegiatan dalam rangkaian pernikahan adat jawa yang lazim dilakukan masyarakat jawa secara luas :

  • Serah-serahan

‘Serah-serahan’ dilaksanakan setelah ditemukannya kesepakatan dari kedua pihak (lelaki serta wanita). Dalam bahasa Jawa, acara dikenal juga sebagai ‘pasoj tukon’. Dalam prosesi adat ini, pihak keluarga dari calon mempelai pria menyerahkan beberapa barang spesifik pada calon mempelai putri. Beberapa barang yang diserahkan itu di kenal juga sebagai ‘peningset’. ‘Peningset’ yaitu sebutan yang dipakai untuk mengistilahkan sinyal pengikat.

Beberapa jenis barang yang digunakan untuk acara serah serahan, berbentuk baju komplit termasuk pakaian dalam dan alas kaki, uang, serta terkadang dapat juga ditambahkan dengan sebuah cincin emas. Cincin emas itu diserahkan untuk kepentingan ‘tukar cincin’.

  • Pingitan

Saat mendekati tanggal pernikahan, seorang calon mempelai putri harus menjalankan prosesi pingitan atau ‘sengkeran’. Pingitan yaitu satu sistem dalam kebiasaan Jawa yg tidak memperbolehkan bertemunya ke-2 calon mempelai. Lamanya proses pingitan ini mencapai lima hari, namun kini masyarakat jawa cenderung memilih 3 hari sebagai batasan pingitan.

Disamping tak bisa bersua dengan pengantin lelaki, pengantin wanita mendapatkan perawatan tubuh berupa dilulur dengan beragam ramuan. Ramuan itu terbuat dari beberapa bahan alami, untuk membuat kulit calon mempelai pengantin putri halus serta cerah. Diluar itu, calon pengantin wanitanya juga disarankan untuk berpuasa, tujuan berpuasa, dipercaya agar acara pernikahannya bakal berjalan semestinya.

Sesungguhnya maksud dari sistem pingitan ini yaitu agar saat perkawinan kelak, tamu undangan yang lihat sang putri kagum bakal kecantikannya, termasuk juga calon penantin lelaki yang beberapa hari tidak bertemu akan kaget dengan perubahan yang terjadi pada pujaan hatinya.

  • Gunakan Bleketepe atau Tarup

Upacara gunakan ‘tarup’ dengan diawali pemasangan ‘bleketepe’ atau anyaman dari daun kelapa. Pemasangan ini dikerjakan oleh ke-2 orang-tua dari calon mempelai putri. Pemasangan ‘bleketepe’ juga ditandai dengan pengadaan sebuah sesajen.

Lalu, tarup yaitu banguanan darurat yang dipakai sepanjang upacara berjalan. Pemasangan Tarup ini tak dikerjakan dengan cara asal-asalan, namun dengan kriteria tertentu yang memiliki kandungan arti religius. Kesan religius sangatlah diperdalam, agar acara upacara itu dapat berjalan dengan lancar tanpa ada kendala.

Hiasan yang dipakai sebagai Tarup tersusun atas daun–daunan serta buah-buahan yang disebut ‘tutuwuhan’. Setiap dedaunan serta buah-buahan yang digunakan memiliki nilai-nilai simbolik sendiri.

  • Siraman

Arti upacara siraman,secara simbolik adalah persiapan serta pembersihan lahir batin calon mempelai. Prosesi ini berlangsung dikediaman masing masing mempelai dan dijadikan momen untuk mempelai meminta restu kedua orang tua yang biasanya dilakukan dengan cara sungkeman.

Peralatan yang dibutuhkan dalam acara siraman ini yaitu kembang setaman, air dari tujuh sumur, gayung, kendi, serta bokor. Orang-tua calon mempelai wanita mesti mengambil air yang berasal dari tujuh sumur. Lalu, air itu dituangkan ke dalam wadah kembang setaman.

Setelah itu, orangtua calon mempelai wanita mengambil air tujuh gayung untuk diserahkan pada panitia. Panitia itu bertugas untuk mengantarnya ke tempat tinggal calon pengantin putra. Upacara siraman ini diawali dengan sungkeman pada orang-tua calon pengantin serta beberapa sepuh. Siraman dikerjakan pertama kali oleh orang-tua calon pengantin. Lalu disusul dengan beberapa sepuh serta paling akhir oleh ibu calon pengantin wanita. Setelah itu, sang ibu bakal memecahkan suatu kendi kelantai sembari mengatakan “Saiki wis pecah pamore” atau yang bermakna saat ini telah pecah pamornya.

  • Paes atau Ngerik

Sesudah siraman, dilanjutkan dengan ritual upacara ‘paes’. ‘Paes’ adalah sistem dalam kebiasaan Jawa yang melambangkan usaha untuk memperindah diri dengan cara lahir serta batin. Lalu calon pengantin putri dirias di kamar serta disaksikan oleh beberapa sepuh (ibu-ibu).

Pada saat calon pengantin wanita dirias, beberapa sepuh memberi restu serta memanjatkan sebuah doa. Doa itu dipanjatkan, supaya dalam ritual upacaa pernikahan kelak dapat jalan dengan lancar serta khidmat. Diluar itu, doa itu dipanjatkan agar ke-2 mempelai nanti berkeluarga bisa hidup rukun, dilimpahi keturunan, serta rejeki.

  • Dodol Dawet

Proses Dodol Dawet ini dilaksanakan dengan harapan agar saat acara pernikahan tidak ada kendala serta bakal dikunjungi banyak tamu yang akan mendoakan mereka nantinya. Dalam sebuah acara dodol dawet ini, makin banyak cendol dawet yang habis, mengisyaratkan makin banyak tamu di acara pesta perkawinan nanti.

Dalam upacara ini, ibu calon mempelai wanita yang bertindak juga sebagai penjual dawet, didampingi, serta dipayungi oleh ayah calon mempelai wanita, sembari mengatakan, “laris… laris”. Dawet ini di jual di halaman depan rumah calon mempelai wanita. Konsumen cendol dawet ini yaitu keluarga serta kerbat dekat. Tidak sama dengan transaksi jual beli umumnya, untuk beli cendeol dawet ini konsumen mesti membawa ‘kreweng’ atau pecahan genteng.

Acara setelah itu yaitu pemotongan tumpeng serta ‘dulangan’. Maknanya ‘dulangan (menyuapi) untuk paling akhir kalinya ke-2 orang-tua menyuapi putrinya. Disarankan acara ini dibarengi dengan pelepasan seekor ayam dara diperempatan jalan. Diluar itu, juga mengikat ‘ayam lancur’ dikaki kursi mempelai wanita. pelepasan ‘ayam dara’ serta pengikatan ‘ayam lancur’ disimpulkan juga sebagai symbol melepas sang putri yang sebentar lagi bakal mengarungi bahtera rumahtangga.

Upacara selanjutnya, ‘menanam rikmo’ yang berjalan di halaman depan rumah. Acara ini diis dengan aktivitas menanam daun-daunan serta buah-buahan spesifik. Arti dari acara ini yaitu agar ke-2 mempelai dijauhkan dari semua masalah serta di dekatkan denan kebahagiaan.

  • Midodareni

Mododareni adalah malam paling akhir untuk ke-2 calon mempelai, baik juga sebagai bujang ataupun dara, saat sebelum menyelenggarakan pernikahan keesokan hari.

Ada dua step upacara yang dikerjakan di tempat tinggal calon mempelai wanita.

Step pertama yaitu upacara ‘nyantrik’. Upacara ini dikerjakan utuk memberikan keyakinan bahwa ke-2 calon mempelai laki-laki bakal ada pada upacara penikahan. Kehadiran calon mempelai wanita di antar oleh wakil orang-tua, beberapa sepuh, keluarga, serta kerabat untuk menghadap kedua calon mertua.

Step ke-2, meyakinkan keluarga calon mempelai wanita yang telah siap melakukan prosesi pernikahan serta bersua dengan sang calom mempelai prianya. Saat malam itu, mempelai putri telah dirias semestinya pengantin. Sesudah terima doa restu dari beberapa hadirin, calon mempelai wanita kembali ke ruang pengantin, untuk beristirahat.

  • Pernikahan

Pernikahan adalah acara puncak yang dikerjakan menurut kepercayaan ke-2 mempelai. Untuk pemeluk islam, pernikahan umumnya dilangsungkan di sebuah masjid atau tempat tinggal calon mempelai wanita. Bagi untuk pemeluk agama Kristen serta Katolik umumnya berjalan di gereja.

Saat pernikahan berjalan, walau memakai kebiasaan Jawa, mempelai putra tak diperbolehkan menggunakan keris. Sesudah upacara usai, dilangsungkan upacara kebiasaan, yakni mempertemukan pada pengantin pria dengan pengantin wanitanya.

Nah itulah rangkaian pernikahan adat jawa yang panjang dan tentunya akan melelahkan bukan.. 🙂 semoga anda yang akan menempuh cara diatas tidak terbebani, setidaknya sebagai anak yang harus berbakti kepada orang tuanya tidak menolak, jika mereka menghendaki anda untuk melalui seluruh proses melelahkan itu.

Selamat meniti hidup baru. 🙂

Topik pilihan pembaca:

  • serah serahan adat jawa
  • serah serahan
  • serah serahan pernikahan
  • serah serahan pernikahan adat jawa
  • serahan
  • adat pernikahan jawa kristen
  • nikah adat jawa
  • pernikahan adat jawa kristen
  • Serahserahan