Perempuan Lagi Tergila-gila Jadikan Batu Akik untuk Cincin Pernikahan

633 views

batu-akik_20150703_103328

Sudjarwati (54), pemilik toko perhiasan di mal City of Tomorrow (Cito) Surabaya menyebut tren perhiasan batu mulia dan akik di kalangan kaum hawa meningkat tajam dalam enam bulan terakhir ini.

"Dulu, hampir tidak ada perempuan yang tanya akik. Tapi, sekarang, seminggu bisa sampai 50 orang yang ambil (beli),” terang Sudjarwati alias Wati saat ditemui Surya di tokonya di lantai UG US 52/3 Cito, Rabu (1/7/2015) sore.

Belakangan ini, tutur Wati, tren perhiasan akik juga berkembang ke kalangan remaja. Bahkan, cincin untuk pernikahan pun dihiasi batu akik.

“Dulu, mana ada akik untuk cincin kawin. Akik biasanya disamakan dengan mistik. Tapi, sekarang akik sudah menjadi gaya hidup," jelasnya.

Untuk cincin pernikahan, kata Wati, para calon pengantin biasanya memesan batu bacan atau permata.
Mochamad Musa, yang juga pedagang permata di Cito mengatakan, dalam sepekan, jumlah perempuan pemburu akik yang mampir di tokonya bisa sampai 60 orang.

"Kalau ibu-ibu, biasanya beli dua hingga tiga buah sekaligus," ujar Musa. Tak hanya cincin, mereka biasanya sekalian membeli liontin, dan gelang.

Selera ibu-ibu, kata Musa, juga lebih tinggi dibanding pria umumnya. Mereka memburu batu-batu akik berkelas, semacam safir, red borneo, bacan, atau kecubung. "Batu-batu ini harganya tergolong tinggi. Batu bacan, misalnya, bisa sampai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta," katanya.

Tidak enaknya melayani pembeli perempuan, kata Musa, adalah umumnya sangat cerewet. Pertanyaan yang meluncur seabrek.

Belum lagi kalau bicara harga. Perempuan lebih suka menawar. Debat harga ini yang sering memakan waktu. Namun, tutur Musa, saat perempuan sudah kesengsem, harga tak jadi persoalan.

“Pembeli itu macam-macam. Ada yang beli untuk dipakai sendiri. Tapi, banyak juga yang untuk dijual lagi. Nah, yang inilah yang biasanya suka menawar sampai penjual tak dapat untung,” terang Musa.