Menggunakan cincin kawin dalam ajaran islam

878 views

Adalah kebiasaan di dalam masyarakat bila seorang laki-laki meminang perempuan dengan memberikan sebuah cincin khusus. Pada acara pernikahan, ada pula acara saling memakaikan cincin kawin.

Firman Allah ta’ala : “Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hambaNya dan begitu juga rizki-rizki yang baik (halal)?” (QS.al-A’raf: 32)

Lajnah ad-Da’imah “MENGHARAMKAN” hal ini karena alasan tasyabbuh (menyerupai tradisi orang kafir). Para pelakunya dianggap bodoh dan lemah iman. Memang benar, cincin kawin dan cincin pertunangan tidak ada di zaman Nabi, kecuali cincin sebagai maskawin.

Menanggapi masalah ini, adalah penting untuk mengemukakan fakta-fakta berikut:

1Pernikahan adalah masalah mu’amalah gairu maliyyah di mana berlaku kaidah bahwa “hukum asal dalam mu’amalah adalah BOLEH/ibahah, kecuali terdapat dalil yang merubah kebolehan itu.

Sebuah Hadits yang diriwaraykan oleh Muslim menegaskan: “…….tidak pula halal (bagi seorang muslim) meminang pinangan saudaranya (sesama muslim)”

2Dalam konteks pertunangan/khitbah, haram bagi seorang muslim meminang perempuan yang telah dipinang oleh muslim lainnya.

3 Tujuan dari walimatul-‘arusy adalah untuk mengumumkan bahwa fulanah telah diperistri oleh si fulan, sehingga tidak halal bagi orang lain melecehkan akad nikah mereka. Mereka yang telah menikah pun tidak dapat berhubungan dengan orang lain kecuai dengan cara-cara yang shar’i.

Dalam hal ini, cincin pertunangan dan cincin kawin justru berfungsi positif, yaitu sebagai penanda bahwa si perempuan berada dalam pinangan orang lain, atau bahwa si fulanah adalah istri orang, sehingga laki-laki lain tidak boleh mengganggu dan harus menghormatinya.

Tasyabbuh tidak dapat dijadikan alasan mengharamkan cincin pertunangan atau pernikahan. Karena Muslimah tidak dapat dikafirkan hanya karena Muslimah memakai busana berbahan wol yang serupa dengan setelan orang eropa. Jika Muslimah mendarat di bulan dengan izin Allah, Muslimah tidak dapat dihukumkan “tasyabbuh” karena orang kafir telah lebih dahulu mendarat di Bulan.

Masalah tasyabbuh sesungguhnya menyangkut persoalan aqidah dan ritual (fiqih ibadah). Jika Muslimah Indonesia masuk ke sinagog, gereja, atau ke tempat ibadah agama lain, lalu mengikuti ritual keagamaan mereka, maka Muslimah telah kafir.

Asal hukum ibadah adalah haram, sampai ada dalil yang memberi perintah untuk melakukakannya

Jadi, karena cincin kawin tidak termasuk wilayah ‘ubudiyah maka hukumnya boleh saja, selama tidak menyalahi prinsip-prinsip dasar syari’ah.