Menggelar Adat Pernikahan Sunda

5847 views

pernikahan adat sundaOrang Indonesia bila menikah pasti tak akan pernah meninggalkan adatnya. Bila tak ikuti kebiasaan dari pengantin pria, pasti turut kebiasaan mengikuti pengantin wanita. Termasuk juga kebiasaan pernikahan Sunda

Dalam kebiasaan pernikahan Sunda nyaris sama juga dengan kebiasaan pernikahan daerah yang lain. Diawali dengan meminta izin ke-2 orang-tua lewat pengajian. Dilanjutkan dengan siraman lantas dilanjutkan dengan prosesi pernikahan.

Cuma saja tiap-tiap daerah berlainan dalam mengartikannya. Inti dari pernikahan itu sejatinya sama yakni mau memperoleh doa restu dari orang-tua serta orang-orang luas. Kebiasaan Pernikahan Sunda Saat sebelum Menikah
Kebiasaan pernikahan Sunda diawali dengan arti nendeun among, yakni bertamunya calon pengantin pria kerumah calon pengantin wanita untuk meminta izin. Lantas dilanjutkan dengan prosesi lamaran (narosan/ngalamar/nyeureuhan). Pengantin pria membawa lamareun (lamaran) serta barang-barang kepentingan wanita seperti seperangkat baju wanita serta duit.

Kemudian dikerjakan seserahan (nyandakeun) umumnya diselenggarakan 3-7 hari saat sebelum menikah yakni penyerahan calon pengantin lelaki pada calon pengantin wanita. Adapun upacara yang dikerjakan satu hari saat sebelum akad nikah dimulai yang diberi nama ngecegkeun aisan Prosesi ini dikerjakan untuk lambang lepasnya tanggung jawab orang-tua pada anaknya.
Sesudah ngecegkeun aisan dikerjakan, kebiasaan pernikahan Sunda dilanjutkan dengan upacara ngaras yakni membersihkan ke-2 telapak orang-tua juga sebagai lambang berbaktinya anak pada orang-tua.

Pada pengantin wanita, lalu dilanjutkan dengan prosesi kebiasaan siraman yang digabung dengan air bunga tujuh rupa juga sebagai lambang, bahwa menuju gerbang pernikahan sebaiknya suci. Karenanya mesti dengan diawali badan serta kemauan yang suci juga.
Sesudah prosesi siraman, Maka pengantin wanita sebaiknya ikuti kebiasaan ngerik, yakni mengerik seluruhnya bulu-bulu serta menghilangkannya di seputar muka supaya riasannya jadi tambah baik lagi.

Kebiasaan Pernikahan Setelah Menikah

Sesudah ikuti beragam jenis prosesi saat sebelum menikah, jadi tibalah prosesi kebiasaan menuju pernikahan.

Calon pengantin pria dibawa menuju tempat tinggal calon pengantin wanita yang dengan diawali pembukaan. Lantas penyerahan calon pengantin pria pada calon pengantin wanita. Dilanjutkan dengan akad nikah yang dicatat oleh KUA, kemudian menyerahkan mas kawin, lantas minta ampun pada ke-2 orang-tua atau sungkeman.

Kebiasaan yang mereka kerjakan bukan sekedar usai sesudah ijab-qabul diikrarkan masih tetap ada lagi upacara kebiasaan yang perlu mereka kerjakan. Salah satunya yaitu sawer pengantin yang dalam bahasa sunda dimaksud dengan panyaweran dengan maksud supaya rumah tangga memperoleh keringanan.

Selanjutnya dilanjutkan dengan nincak endog/injak telur yang berarti gadis yang dinikahi masih tetap gadis atau perawan.
Kemudian meuleum haruput (membakar lidi) juga sebagai lambang supaya janganlah gampang berkelahi serta sabar dalam memecahkan masalah, buka pintu juga sebagai lambang diterimanya suami dalam kehidupan istri.

Lantas ada lagi huap lingkung yang disebut prosesi diketemukannya pengantin pria serta wanita dalam satu kamar. Teakhir yaitu melepas sepasang burung merpati juga sebagai lambang ke-2 pengantin bakal mengarungi kehidupan yang baru.
Saat ini upacara kebiasaan pernikahan Sunda sudah mulai disederhanakan, karena melihat prosesinya yang demikian panjang serta melelahkan.

Bahkan juga menurut beberapa ulama, kebiasaan Sunda terlampau berlebihan lantaran ada prosesi injak telur yang dimisalkan sangatlah tak menghormati ciptaan Yang Maha Kuasa. Kebiasaan tetap harus kebiasaan, bagaimanapun bangsa ini terus mesti melestarikan kebiasaan yang ada.

Tata Langkah Kebiasaan Pernikahan Sunda

Pernikahan memanglah satu upacara sakral yang diinginkan sekali seumur hidup. Bentuk pernikahan sangat banyak memiliki bentuk dari yang paling simple, serta yang repot lantaran memakai upacara kebiasaan. Seperti pernikahan kebiasaan Sunda ini, agar kekayaan budaya tatar Sunda dapat dipandang juga melalui upacara pernikahan adatnya yang diwarnai dengan humor namun tak menyingkirkan nuansa sakral serta khidmat.

1. Nendeun Omongan

Step ini yaitu perbincangan orangtua ke-2 pihak mempelai atau siapa saja yang diakui jadi utusan pihak pria yang mempunyai gagasan mempersunting seseorang gadis sunda. Orangtua atau sang utusan datang bersilaturahmi serta menaruh pesan bahwa nantinya sang gadis bakal dilamar.

Pada awal mulanya memanglah orangtua semasing telah bikin perjanjian untuk menjodohkan atau lelaki serta perempuannya telah setuju untuk ‘mengikat janji’ dalam satu ikatan pernikahan, jadi setelah itu orangtua pria datang sendiri atau menyuruh orang ke rumah sang gadis untuk mengemukakan kemauan.

Intinya, neundeun omong (titip ucap, menyimpan pengucapan atau menaruh janji) yang inginkan sang gadis supaya jadi menantunya. Dalam soal ini, orangtua atau utusan membutuhkan kepandaian bicara serta berbahasa, penuh keramahan.

2. Lamaran

Step melamar atau meminang ini juga sebagai tindak lanjut dari step pertama. Sistem ini dikerjakan orangtua calon pengantin keluarga sunda serta keluarga dekat. Nyaris serupa dengan yang pertama, bedanya dalam lamaran, orangtua lelaki umumnya mendatangi calon besannya dengan membawa makanan atau bingkisan yang sederhana.

Membawa lamareun juga sebagai lambang pengikat (pameungkeut), dapat berbentuk uang, seperangkat baju, sejenis cincin pertunangan, sirih pinang lengkap serta yang lain, juga sebagai tali pengikat pada calon pengantin perempuannya. Setelah itu, ke-2 pihak mulai mengulas saat serta hari yang baik untuk menyelenggarakan pernikahan.

3. Tunangan

Step ini yaitu prosesi ‘patuker beubeur tameuh’, yakni dikerjakan penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos pada si gadis.

4. Seserahan

3 – 7 hari saat sebelum pernikahan dikerjakan seserahan. Calon pengantin pria membawa uang, baju, perlengkapan rumah tangga, perlengkapan dapur, makanan, dan sebagainya.

5. Ngeuyeuk Seureuh

Bila ngeuyeuk seureuh tak dikerjakan, jadi seserahan dikerjakan sebentar saat sebelum akad nikah. Step ini dikerjakan seperti berikut :
Nini Pangeuyeuk memberi 7 helai benang kanteh selama 2 jengkal pada ke-2 calon mempelai. Sembari duduk menghadap serta memegang ujung-ujung benang, ke-2 mempelai meminta izin untuk menikah pada orang-tua mereka.

Pangeuyeuk membawakan Kidung diisi permintaan serta doa pada Tuhan sembari nyawer (menaburkan beras sedikit-sedikit) pada calon mempelai, serta lambang harapan hidup sejahtera untuk sang mempelai.

Calon mempelai dikeprak (dipukul pelan-pelan) dengan sapu lidi, dan diiringi nasehat untuk sama-sama memupuk kasih sayang.
Kain putih penutup pangeuyeukan di buka, melambangkan rumah tangga yang bersih serta tidak ternoda. Menggotong dua piranti baju diatas kain pelekat, melambangkan hubungan kerja pasangan calon suami istri dalam mengelola kehidupan rumah tangga yang akan datang.

Calon pengantin pria membelah mayang jambe serta buah pinang. Mayang jambe melambangkan hati serta perasaan wanita yang halus, buah pinang melambangkan suami istri sama-sama mengasihi serta bisa beradaptasi. Setelah itu calon pengantin pria menumbuk alu ke lumping yang dipegang oleh calon pengantin wanita.

Bikin lungkun, yaitu berbentuk dua lembar sirih bertangkai bertemu digulung jadi satu memanjang, lantas diikat benang. Ke-2 orang-tua serta tamu lakukan hal yang sama, melambangkan bila ada rejeki berlebihan mesti diberikan.
Diaba-abai oleh pangeuyeuk, ke-2 calon mempelai serta tamu berebut uang yang ada dibawah tikar sembari disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki serta disayang keluarga.

Ke-2 calon mempelai serta sesepuh buang sisa ngeuyeuk seureuh ke perempatan jalan, simbolisasi buang yang jelek serta mengharap kebahagiaan dalam meniti hidup baru.
Menyalakan tujuh buah pelita, suatu kosmologi Sunda bakal jumlah hari yang diterangi matahari serta harapan bakal kejujuran dalam membina kehidupan rumah tangga.

6. Bikin Lungkun

Dua lembar sirih bertangkai sama-sama dihadapkan. Digulung jadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti ke-2 orangtua serta beberapa tamu yang ada. Maknanya, supaya nantinya rezeki yang didapat apabila terlalu berlebih bisa diberikan pada saudara serta handai taulan.

7. Saweran

Adalah upacara berikan nasehat pada ke-2 mempelai yang dikerjakan sesudah acara akad nikah. Melambangkan Mempelai beserta keluarga sharing rezeki serta kebahagiaan.

Kata sawer datang dari kata panyaweran, yang dalam bahasa Sunda bermakna tempat jatuhnya air dari atap rumah atau ujung genting sisi bawah. Mungkin saja kata sawer ini di ambil dari tempat berlangsungnya upacara kebiasaan itu yakni panyaweran.
Berjalan di panyaweran (di teras atau halaman). Ke-2 orangtua menyawer mempelai dengan diiringi kidung. Untuk menyawer, memakai bokor yang di isi duit logam, beras, irisan kunyit tidak tebal, permen.

Ke-2 Mempelai duduk berdampingan dengan dinaungi payung, bersamaan kidung usai di lantunkan, isi bokor di tabur, lalu hadirin yang melihat berebut untuk memunguti duit receh serta permen.

Beberapa bahan yang dibutuhkan serta dipakai dalam upacara sawer ini tidaklah terlepas dari lambang serta maksud yang akan di sampaikan pada pengantin baru ini, seperti :
Beras yang memiliki kandungan lambang kemakmuran. Tujuannya mudah-mudah sesudah berumah tangga pengantin dapat hidup makmur
Uang recehan memiliki kandungan lambang kemakmuran tujuannya jika kita memperoleh kemakmuran kita mesti ikhlas sharing dengan Fakir serta yatim
Kembang gula, berarti mudah-mudah dalam melakukan rumah tangga memperoleh manisnya hidup berumah tangga.
kunyit, juga sebagai lambang kejayaan semoga dalam kehidupan berumah tangga dapat mencapai kejayaan.

8. Membakar Harupat

Mempelai pria memegang batang harupat, lalu pengantin wanita membakar dengan lilin hingga menyala. Harupat yang telah menyala lalu di input ke kendi yang di pegang mempelai wanita, diangkat kembali serta dipatahkan lantas di buang jauh-jauh.
Melambangkan nasehat pada ke-2 mempelai untuk selalu berbarengan dalam memecahkan masalah dalam rumah tangga. Manfaat istri dengan memegang kendi diisi air yaitu untuk mendinginkan tiap-tiap masalah yang bikin pikiran serta hati suami tak nyaman.

Topik pilihan pembaca:

  • ijab kabul bahasa sunda
  • mohon doa restu pernikahan dalam bahasa sunda
  • ijab kabul bahasa sunda yang benar
  • minta restu orang tua bahasa sunda