Curhatan bocah ini kepada bundanya, Menginspirasi netizen..

1086 views

Kisah Seorang Ibu yang mengharu biru setelah tahu perasaan anaknya yang sebenarnya yang dahulu masih suka ditinggal pergi bekerja... Pelajarn berharga bagi Bunda semua, yang terpaksa bekerja meninggalkan anaknya..

Pengalaman berharga ini mendapat respon mengharukan dari netizen.. banyak yang mendapatkan pelajaran berharga,

Bismillah...

Tadi pagi badmood melanda. Feeling guilty tingkat dewa. Selama berangkat pengajian sampai separuh perjalanan pulang aku gak banyak bicara, mungkin teman-temanku di mobil merasakan auranya hingga mereka pun gak banyak bercakap-cakap.

Akhirnya akupun bercerita kalau perasaanku lagi gak nyaman. Awalnya Altaf miss komunikasi dengan ayahnya. Dia minta antar ke sekolah, ditanggapi canda ayahnya. Dipikirnya ayahnya mau mengantarnya ke sekolah, sedang ayahnya menganggap dia tidak janji mengantar. Jadi ketika ayahnya berangkat, ada anak berpipi tembem melakukan aksi bimoli (bibir monyong lima mili) sampai berujung butir kristal yang meleleh melintasi pipinya. Dia begitu bersikeras diantar ayahnya sekolah, hingga aku membujuknya berulang-ulang. Akhirnya kalimat lirihnya meluncur...adek kangen sama ayah.

Ya... belakangan interaksi anak-anak sama ayahnya minim sekali. Kalau dihitung effektif tanpa terganggu tv, gadget, paling hanya 1 jam. Kadang, ayahnya pulang dia sudah tidur. Sedang subuh, altaf berlatih renang, lalu berangkat sekolah. Di week end ayahnya juga ngantor, kadang seharian juga. Kalaupun berkumpul itu pun masih terganggu telepon buat koordinasi kerjaan kantor atau berinteraksi dengan temannya di group medsos. Tapi apapun kondisinya itu adalah hal yang harus disyukuri. Karena ayahnya pun telah berusaha keras melakukan quality time buat anak-anak. Tapi dengan kondisi yang seperti itu, aku pun memahami perasaan anak-anak dan sebisa mungkin memberikan pengertian normatif.

Akhirnya aku berhasil bujuk Altaf untuk ku antar ke sekolah, kami berbincang dijalan.

Adek kangen ayah ya? tanyaku...

Iya.... jawabnya singkat

Adek suka kangen bubu juga enggak?

Iya... jawabnya lagi

Tapi sekarang kan bubu di rumah terus yaa... jadi adek kan gak perlu kangen lagi ya dek kataku berusaha melucu....

Adek suka kangen bubu juga kalau inget bubu di sekolah... jawabnya polos

Aku terdiam sesaat.... so sweet....

Terus dulu waktu ibu kerja gimana dong? tanyaku lagi

Dulu kangen terus, suka sedih kalau bubu bilang mau pulang malam, atau enggak sabtu masuk. Sebenernya Adek suka sedih kalau bubu berangkat kerja ... jawabnya.

Kok adek gak pernah ngomong? tanyaku

Adek kan dulu kalau ditinggal bubu kerja nangis... tapi kan bubu tetap berangkat. lama-lama juga adek bosen nangis. Adek juga berapa kali ditanya senengan bubu kerja apa di rumah, adek jawab di rumah terus tapi bubu nya gak berhenti-berhenti kerja waktu itu.

Ahh... tiba-tiba aja tercekat. Ternyata hatinya pernah terluka, dan itu berlangsung bertahun-tahun. Berarti selama itu anakku bukan memahami dan memaklumi ibunya pergi meninggalkannya, ternyata itu titik kejenuhan memohon ibunya buat tidak pergi. Dan aku sendiri tidak pernah merasa bersalah dan menganggap itu semua hal yang lumrah. Lalu aku bangga dengan segala pencapaianku, merasa kehidupanku lebih berharga atas pencapaian-pencapaian aktualisasi diriku atas ilmu dan kemampuan yang ku punya sementara hati anakku ternyata terluka.

Ketika altaf berpamitan akan turun dari mobil, kami berpelukan erat seolah enggan melepasnya.

Air mataku jatuh waktu bercerita sambil berkendara. Sampai seorang temanku berkomentar.... Er... aku selalu mendampingi anakku 24 jam sejak mereka lahir, tapi itu bukan jaminan aku adalah ibu yang baik buat anak-anak, ibu yang gak pernah nyakitin dan ngecewain anak-anak. Bukan ... bukan jaminan kita 24 jam sama anak bahwa kita ibu yang terhebat. Buktinya banyak juga ibu yang kerja sukses didik anak-anaknya, walau ada juga yang failed. Banyak juga ibu yang 24 jam dengan anak tapi anak-anak mereka jadi sampah masyarakat walau sangat banyak juga yang sukses. Perjalanan kita sebagai orang tua masih panjang....

Kami terdiam lama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Akhirnya aku berpikir bahwa kita gak pernah merubah masa lalu. Tapi Allah kasih kesempatan hari ini dan InsyaAllah masa ke depan, gak akan ada gunanya nyesalin yang udah lewat. Mending sekarang mikir, gimana caranya kita jadiin anak kita anak-anak yang hebat. Gak usah pusingin berapa banyak waktu yang ada buat mereka, tapi berapa banyak yang bisa kita perbuat buat mereka di setiap waktu yang ada, semoga jadi amalan yang sempurna......

by Ernydar Irfan